Tips agar gula darah tetap rendah

Sebanyak 84 persen penderita diabetes tipe 2 mengalami kenaikan gula darah sesudah makan diatas normal. Ketua Divisi Metabolik dan Endokrin, Departemen Penyakit Dalam, FKUI/RSCM, Profesor DR dr Sidartawan Soegono SpPDKEMD, mengatakan sel beta pankreas pada penderita diabetes melitus tipe 1 memang tidak bekerja sehingga tubuh kekurangan insulin dan harus disuntik..[..]

Penyebabnya adalah antibodi yang merusak sel beta itu sendiri. Reaksi antibodi itu bisa diakibatkan oleh serangan virus ataupun genetik. Berbeda dengan tipe 1, penderita diabetes melitus tipe 2 sebenarnya mampu menghasilkan insulin, cuma tidak optimal. Malah pada banyak kasus pankreas pada diabetes tipe 2 menghasilkan insulin di atas normal. Dalam beberapa literatur diketahui bahwa dari semua penderita diabetes, hampir di atas 90 persen adalah penderita diabetes tipe 2.

Mereka banyak berasal dari usia produktif. Sekitar usia 45r sampai 65 tahun. Angka kejadian meningkat bersama meningkatnya usia, meski tetap dijumpai ada pada usia belasan. Yang jelas penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikontrol dengan mengatur kadar gula dalam darah.

Panduan Federasi Diabetes Internasional (IDF) tentang pengelolaan gula darah sesudah makan merekomendasi pasien diabetes untuk menjaga kadar gulanya tidak lebih dari 140 miligram per desiliter pada dua jam sesudah makan. patokan ini dipublikasikan pertam kali pada September 2007 di Amsterdam, Belanda.

Rekomendasi ini lebih kecil dibandingkan patokan sebelumnya, yang di batas 200 miligram per desiliter. Panduan IDF ini menekankan pentingnya menjaga gula darah sesudah makan agar terhindar dari resiko komplikasi diabetes. Hal ini sekaligus mengubah paradigma dalam pengelolaan diabetes yang lebih berfokus pada pengendalian gula darah sebelum makan.

pada kenyataanna, mayoritas penderita diabetes menganggap naiknya gula darah sesudah makan merupakan hal yang lumrah. Sekalipun angkanya melewati batas normal. Diketahui, tingginya gula darah sesudah makan bakakla memicu produksi radikal bebas dalam jumlah besar, diantaranya reactive oxygen species. Yang bisa menimbulkan oxidative stress. Pembentukan oxidative stress ini dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah yang merupakan tahapan awal dari kerusakan vaskuler.

Menurut Sidartawan, komplikasi diabetes terjadi pada semua organ tubuh yang dialiri pembuluh darah kecil dan besar dengan penyebab kematian 50 persen akibat penyakit jantung koroner, dan 30 persen akibat gagal ginjal. "Selain kematian Diabetes melitus juga dapat menyebabkan kecacatan.

Sebanyak 10 persen penderita diabetes harus menjalani amputasi tungkai kakinya. menurut Sidartawan, karena adanya kelainan saraf otonom yang mengganggu produksi keringat sehingga kaki menjadi tidak lembab dan kering. Hingga akhirnya menyebabkan kaki menjadi pecah-pecah.

Di saat yang sama, penderita diabetess kehilangan kemampuan merasakan sakit saraf sensorik yang tidak bekerja. Misalnya: telah menginjak paku tetapi si penderita tersebut tidak merasakan apapun, luka tersebut menjadi awal terjadi infeksi, yang kemudian memasuki jairngan lebih dalam kaki sehingga membutuhkan tindakan amputasi sebagai jalan keluarnya.

Melihat bahayanya komplikasi itu, diperlukan kontrol gula darah secara mandiri dari si penderita. Bisa dengan menggunakan alat monitor gula darah sebagai metode untuk mengetahui level gula darah mereka. Tentunya di kombinasi dengan penerapan gaya hidup sehat dan rajin konsultasi dengan dokter. Pemantauan gula darah ini dinilai akan mendidik pasien mengatur sendiri pola makannya dan memancing mereka melakukan aktivitas positif demi nilai gula darahnya.

BERIKUT TIPS-TIPS MENGONTROL GULA DARAH ANDA :

1. Kendalikan berat badan.
2. Kurangi konsumsi cemilan dan minuman kaya gula.
3. Kurangi asupan karbohidrat.
4. Konsumsi banyak sayur dan buah.
5. Beraktivitas fisik secara reguler.
6. Cek kadar gula secara rutuin.
7. Konsisten dan patuhi saran dokter.

Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Spam comment will be deleted...!!