Hepatitis C, kenali dan Hindari

hepatitis C
Di muka bumi ini, tentu tak seorang pun yang mengharapkan dirinya menderita sakit. Sebaliknya, kondisi tubuh yang sehat, bugar dan kuat menjadi "harta" yang selalu di jaga. Dengan demikian, pekerjaan serta aktivitas lain dapat dilakukan dengan baik.[..]

Akan tetapi, entah karena lalai, minimnya pengetahuan akan gejala suatu penyakit, serta gaya hidup dan asupan yang kurang sehat, membuat tubuh rentan terhadap penyakit sehingga harapan untuk hidup sehat kandas begitu saja.

Apalagi kalau penyakit yang diderita tidak memiliki gejala yang spesifik saat masih dalam tingkat ringan. Hal ini tentu sepatutnya membuat orang lebih waspada. Sebut saja penyakit Hepatitis yang gejalanya seringkali dianggap gejala demam atau flu biasa.

Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (lever). Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan termasuk obat tradisional, meski umumnya hepatitis banyak disebabkan karena virus, yang terdiri dari beberapa jenis yaitu, hepatitis A,B,C,D,E,F dan G.

Hepatitis akibat virus sendiri dibagi menjadi dua jenis. Akut dan kronik. Hepatitis akut misalnya hepatitis A, sementara hepatitis kronik yaitu hepatitis B dan C yang kemudian dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker hati. Dibandingkan dengan hepatitis A dan B hepatitis C memang belum terlalu dikenal padahal penyakit ini justru belum ditemukan vaksinnya, sehingga sukar untuk disembuhkan. Tidak heran, hepatitis C menjadi salah satu problem kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai karena paling sering menyebabkan sisa berupa hepatitis kronik, sirosis hati (kekerasan hati) dan kanker hati primer.

Dibandingkan dengan hepatitis B, hepatitis C lebih ganas dan lebih sering menyebabkan penyakit hati menahun. Replikasi (pertumbuhan) virus ini amat produktif dan dapat mencapai 10 triliun sehari.

Penularan dan gejala

Seperti hepatitis lain, hepatitis C juga tidak memiliki gejala yang spesifik dan langsung terlihat. Menurut Depkes, infeksi Hepatitis C juga dikenal dengan istilah infeksi terselubung atau silent infection. Disebut demikian karena infeksi dini virus Hepatitis C (VHC) bisa saja tidak bergejala atau bergejala ringan umumnya terabaikan.

Sebenarnya, dari sekitar 10-20 persen penderita infeksi akan sembuh dengan sendirinya karena kekebalan tubuh. Namun 80-90 persen, akan terus rentan untuk terserang lever, sehingga menjadi kronis. Jika dibiarkan dalam waktu yang lama, kira-kira 25-35 persen akan menjadi sirosis hati.

Gejala ringan seperti cepat lelah, lemas, diare, tidak nafsu makan dan gejala flu ringan umumnya tidak disadari sebagai gejala hepatitis C. Wajar kalau kemudian banyak orang yang tidak terdiagnosis.

Lalu seperti apakah penularan hepatitis C? Penularan paling utama ialah lewat media transfusi darah yang terkontaminasi virus hepatitis C. Dan kelompok yang paling rentan terkena penyakit ini selain pengguna narkoba suntik, juga pemakai tindik dan tato, apabila jarum suntik yang dipakai tidak steril. Jumlah yang paling rentan dalam kategori kelompok ini ialah dalam rentang usia 20-30 tahun.

Pemakaian bersama alat perawatan tubuh pun juga dapat menjadi media penularan. Alat cukur, sikat gigi, sisir dan gunting kuku dapat menjadi perantara. Selain kedua cara penularan tadi, hubungan suami istri dan penularan vertikal dari ibu yang terjangkit hepatitis C ke bayi menjadi faktor penular yang lain, walaupun resiko terjadi masih relatif kecil.

Walau sampai sekarang hepatitis C belum ditemukan vaksinnya, cara pencegahan baik kepada kebersihan badan dan lingkungan sekitar sudah sepatutnya untuk dijaga. Selain itu, kebersihan tersebut juga harus didukung dengan kesehatan yang baik, agar stamina selalu fit, ditunjang dengan asupan makanan dengan gizi yang cukup, olah raga yang teratur dan istirahat yang cukup (kompas)

No comments:

Post a Comment

Spam comment will be deleted...!!